Ada Lelucon di Setiap Duka

26 May 2012

Dalam suatu acara bincang-bincang di Festival Pembaca Indonesia pada tahun 2011, dihadirkanlah Valiant Budi Yogi dan Windy Ariestanty. Valiant adalah seorang penulis, dan Windy lebih populer sebagai seorang editor. Buku kontroversial Kedai 1001 Mimpi milik Valiant belum lama diluncurkan, juga buku The Journey hasil suntingan Windy masih terhitung baru di toko buku. Alhasil, mereka lebih sering bercerita mengenai proses pembuatan kedua buku tersebut. Sesi tanya jawab pun dimulai, beberapa penanya (termasuk saya) bertanya tentang hal-hal yang tidak begitu jauh dari Kedai dan Journey. Lalu salah seorang penanya berkata kira-kira seperti ini, “Buku Kedai 1001 Mimpi ini bagus, kontroversial, tapi novel paling gila milik Valiant adalah Joker!”. Saya sudah membaca Kedai 1001 Mimpi dan tak segan memasukkan buku itu ke buku favorit saya kategori pengarang lokal, dan katanya Joker lebih gila dari Kedai 1001 Mimpi? Wow, rasa penasaran akan karya perdana Valiant ini kian membesar. Akhirnya setelah beberapa bulan, saya mendapatkan buku Joker. Joker yang beredar di pasaran sekarang merupakan Joker cetakan ulang dengan cover baru, lebih fresh dan keren!

Joker bercerita tentang dua karakter utama bernama Brama Meadiharja dan Alia (tak disebutkan nama belakangnya). Kedua tokoh ini memiliki gaya pemikiran yang berbeda, setiap hipotesis Brama terhadap suatu masalah, akan ditepis Alya dengan logikanya yang menurut Brama aneh, tapi menurut saya tidak. Brama terobsesi pada seorang perempuan bernama Mauri, gadis sempurna (di mata Brama) yang ia kenal sejak SMA. Bahkan Brama sampai pindah kota dan mencari kerja di radio yang sama dengan Mauri, hanya agar bisa berdekatan dengannya. Sementara Alia tak ubahnya seperti pelacur gratisan yang nafsunya tak terbendung, dan herannya hampir selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Tipe lelaki yang disukai Alia adalah mereka yang bertubuh gempal dengan lemak tambahan, chubby istilahnya.

Walau Brama dan Alia tampak sangat bertolak belakang, tapi mereka memiliki ikatan emosional yang teramat dalam. Dalam novelnya dikisahkan, di mana ada Brama, hampir selalu ada Alia. Brama tempat Alia mencurahkan hatinya mengenai gebetan-gebetannya, dan Alia tempat bagi Brama untuk bercerita tentang Mauri.

Tokoh Brama di sini merupakan pemuda idaman setiap penyuka pria (walau tidak begitu dijabarkan tentang kondisi fisiknya apakah atletis, kurus kerempeng, atau gembrot), tapi ada sesuatu yang unik dalam diri Brama yang mampu membuat pembaca jatuh cinta kepadanya. Dan Alia mengisi kesempurnaan tokoh brama di novel ini dengan segala ke-asusila-annya. Jadi para pembaca bisa melihat dua kondisi karakter yang berbeda jauh.

Brama Meadiharja tampak sedemikian nyata, bahkan blog bramameadiharja.blogspot.com pun benar-benar ada, dan isinya tertuang di novel ini! Salut bagi pengarang yang tampak sangat niat untuk menghidupkan karakter Brama yang realistis.

Klimaks dari Joker berada di bagian akhir, saya (dan mungkin seluruh pembaca Joker) tak pernah menyangka akan menjadi seperti itu! Ending yang sangat menarik inilah yang membuat saya kembali membaca Joker dari awal, sebuah hal yang belum pernah terjadi untuk buku manapun yang pernah saya baca. Valiant berhasil mengelabui naluri saya yang dengan polosnya mengikuti alur yang dibuat olehnya. Euforia yang dihasilkan setelah selesai membaca buku ini cukup lama, saya bahkan tidak mau membaca buku lain dulu sampai euforia mengenai Brama dan Alia menghilang dari pikiran saya. Bravo, Vabyo!


TAGS


-

Author

Follow Me