Keke Yang Pantang Menyerah

8 Jul 2011

Sebuah film Indonesia bergenre drama hadir kembali, berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan, menceritakan tentang seorang anak bernama Gita Sesa Wanda Cantika (Dinda Hauw) atau Keke (heran juga, dari mana korelasi namanya sampai dipanggil Keke). Hidup Keke nyaris sempurna, punya papa yang baik, pacar yang unyu dan luar biasa baik bernama Andi (Esa Sigit), dan teman-teman se-genk yang sangat dekat dengan Keke (isinya tujuh cewek, mengingatkan akan 7 icons). Kekurangannya ya Papa - Mamanya udah cerai, akibatnya kakak Keke yang bernama Chika (Egi John Forteisyhe) jadi doyan kebut-kebutan dan menghamburkan uang.

STORYLINE
Hidup yang nyaris sempurna itu berubah seketika saat Andi nembak Keke untuk jadi pacarnya, Keke kucek-kucek mata, dan ternyata setelah ditelusuri oleh dokter, Keke mengidap rhabdomyosarcoma atau kanker jaringan lunak. Papa Keke (Alex Komang) gak mau Keke dioperasi, karena akan mengakibatkan separuh wajah Keke diangkat, jadi Papanya nganterin Keke kemana-mana untuk berobat alternatif. Dari mulai disuntik ini itu, dicipratin air, bahkan sampai disuruh makan bawang. Tapi semua itu tak kunjung membuahkan hasil, muka Keke yang sebelah kiri jadi rusak, Keke tampak seperti monster!! Akhirnya sang Dokter menyuruh Keke kemoterapi, hal ini diiyakan oleh Papa Keke.

Setelah berbulan-bulan, sel kanker dinyatakan hilang dari tubuh Keke, wajahnya kembali cantik seperti sedia kala. Papa senang, Mama senang, Kakak-kaka senang, Teman-teman senang, dan Keke pun ngajak balikan pacarnya. Kehidupan Keke yang normal kembali lagi, ia kembali mengikuti latihan tari untuk dipentaskan di acara Rhytm and Dance. Yah, film ini happy ending dong? Tunggu dulu, mari kita beralih ke paragraf berikutnya.

Setelah latihan tari selesai, muka keke tanpa sengaja tertampar oleh handuk dari temannya, dan Keke mulai mengucek-ngucek matanya kembali. Dan benar saja, ternyata sel kanker itu masih ada, dan sekarang ini lebih parah!! Pengobatan demi pengobatan akhirnya kembali dijalani keke, rambut Keke mulai rontok secara dramatis. Adegan yang bikin saya meneteskan airmata adalah saat kerja kelompok bersama, Keke mengelus kepalanya sendiri, dan rontoklah rambut Keke yang terakhir, teman-temannya pun berinisiatif menggunting rambut mereka sendiri untuk diberikan kepada Keke, sia-sia sih, masa iya rambutnya ditempelin. Cuma rasa empati dan simpati yang diberikan teman-teman Keke cukup mengharukan.

CAST
Cast yang hadir di sini diisi oleh 80% bintang baru. Dinda Hauw bermain apik sebagai Keke, ekspresi wajahnya natural sekali untuk menjadi seorang penderita kanker. Papa Keke dimainkan oleh Alex Komang, ya sudah lah ya, gak perlu diragukan lagi aktingnya, dan di film ini saya baru sadar kalo mas Alex Komang itu kurus sekali ya. Kakak-kakak Keke diperankan oleh Egi John Forteishye dan Dwi Andika, cukup mengobati kerinduan akan bintang-bintang sinetron muda yang berjaya bertahun-tahun lalu. Teman-teman Keke semuanya wajah baru (ada satu yang mirip Nikita Willy).

MAKE-UP AND WARDROBE
Make-up saat Keke parah-parahnya kena kanker itu natural gak keliatan kasar, dan menyeramkan! Kostum-kostum Keke juga manusiawi, maksudnya gak setiap adegan ganti, tapi ada beberapa jaket/baju yang dipakai ulang, juga tidak begitu glamor ala-ala sinetron stripping.

Film ini diangkat dari sebuah novel(?) best-seller(?) di Indonesia(?) dan Taiwan(?) karya Agnes Davonar (hemm, mengingatkan tentang @IndonesiaBerdoa, bukan?), sedikit cuplikannya bisa dilihat di sini.
Dulu saya pernah bilang tidak akan menulis review film Indonesia lagi, untuk menghindari clash dengan pihak-pihak yang terkait dengan produksi film tersebut, tapi film ini worth to watch kok, ga ada salahnya kan kalau saya bikin review-nya. :)

Moral of The Movie: Aku penasaran bagaimana nanti aku akan dikenang, kuserahkan semuanya pada kalian…


TAGS


-

Author

Follow Me